Rindu Kemerdekaan
Selaksa
duka belum jua rapuh
Akan
peradaban yang telah kental dalam perjalanan,
Berlaga
dengan sisa nafasku
Menjadi
lakon airmata.
Betapa
kurindu kemerdekaan
Ketika
hari demi hari, bulan demi bulan lara
resah dan pilu menjajah hidupku.
Sungguh
aku rindu kemerdekaan
Bagaikan
haus dalam kekeringan
dan bagaikan gersang merindukan hujan.
Harus
berapa lama?
Kunanti
kemerdekaan dalam hidup
yang ada diantara sayap kematian,
Oh
kemerdekaan...
Wajah
telah kusut
Airmata
bagaikan hujan
Yang
bertasbih mengharapkanmu
Dengan
kicawan do’a yang menembus dinding kelabu
Namun
belum jua mampu menepis penjajah dalam hidupku
Yang
telah lemah gemulai.
Naungan Jiwa Yang Ranggas
Pada
ciptamu aku bernaung melepas jenuh
Mengisi
kekosongan jiwa
Dengan
menikmati megahnya dunia
Sejuk
jiwa bak embun pagi
Meniti
lorong waktu
Namun
ketika ia ranggas
Pancaran
duka menyengat kalbu,
Nafaspun
sengau menanti kemerdekaan
Membuat
rona wajah gersang senyuman
Tatapan
mata hilang dalam beningnya airmata
Mengupas
hasrat menjadi sejengkal mimpi
Yang
selalu menjelma setiap waktu ,
Tuhan
izinkan aku kembali padamu
Bersama
saer-saer doaku
Dibawah
naungn takdirmu,
Tuhan
lama aku ingkari dirimu
Hingga
aku rindu rahmatmu
Saat
nafas tiada aku gantungkan pada tanganmu
Ketika
gemuruh sesal penuh tangisan
Saat
ia ditelan kemarau.
Karang Dalam Cinta
Jauh
aku tenggelam kedasar cinta
Terhimpit
duka yang selalu menyiksa
Kesetiaan
hanya menjadi berkas-berkas kenangan
Dalam
perjalanan yang melelahkan.
Ingin
rasanya aku ahiri
Namun
nafas yang sudah sengau
Masih
bergemuruh rindu dalam kalbu,
Wahai
yang kupuja ,,,,,,
Aku
larut dalam duka
Lupakan
sejuta kenangan
Meredup
dalam kepiluan panjang
Tanpa
umbaran tawa,
Sungguh
jiwa telah membenih gundah gulana
Remangkan
langkah perjalanan
Menghampiri
kedamayan diantara himpitan kepiluan
Yang
tiada terhancurkan
Oleh
taubatan nasuha
Ketika
sadar mulai ada.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar