COUNTRY
– Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Country Universitas
Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik.
Kegiatan yang diadakan oleh Biro Penggalian dan Pengembangan Minat Bakat ini
dimaksudkan agar kader PMII Country memiliki keterampilan menulis, khususnya
menulis karya tulis ilmiah.
“Menulis
itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil dulu, seperti menulis reportase,
berita dan sebagainya,” ungkap pemateri Pelatihan Jurnalistik, Diana Manzila di
sela-sela penyampaian materinya, di Hall PMII Komisariat Country Unitri, Jalan
Telaga Warna Blok D2 Tlogomas Malang, Kamis 15 Mei 2014.
Di
awal-awal materinya, perempuan manis berkacamata ini mengulas tentang
nilai-nilai dalam sebuah berita. Menurutnya, berita merupakan hal paling
mendasar dalam menulis yang selanjutnya bisa dikontekstualisasikan dalam
menulis materi yang lebih berat, seperti artikel dan opini.
Dikatakannya,
nilai-nilai berita itu meliputi aktualitas, ketokohan, penting, unik, ganjil atau
luar biasa, seks, dan banyak lagi yang lainnya. Dengan menggunakan unsur 5 W +
1 H, seorang penulis berita akan mampu menemukan titik permasalahan dan
mengambil sudut pandang dari informasi yang akan ditulisnya menjadi berita.
“Di
paragraf pertama itu memuat informasi terpenting yang harus disampaikan yang
dinamakan dengan angle atau sudut
pandang,” ujar lulusan tahun 2013, jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam
Negeri Malang ini.
Menurutnya,
menulis itu identik dengan membaca. Mereka yang tidak biasa membaca maka akan
menemukan kesulitan dalam menulis. Maka sangat wajar, jika mayoritas penulis
pemula menemui hambatan ketika akan melanjutkan menulis pada paragraf-paragraf
berikutnya.
Sebagai
penulis pemula, peserta diarahkan untuk menulis materi-materi yang ringan
terlebih dahulu oleh perempuan yang akrab disapa Diana ini. Tentu peserta
diarahkan menulis materi-materi yang aktual dan obyektif berdasarkan pada fakta
seperti yang disampaikan dalam materinya.
Dalam
pelatihan yang berlangsung selama tiga jam itu, peserta tidak hanya disajikan
konsep dan teori jurnalistik saja, namun juga disediakan waktu praktik menulis.
Peserta dipersilahkan menulis permasalahan apa saja sesuai kemampuan
masing-masing. Seperti cerpen, puisi,
opini dan artikel.
“Dari
tulisan ini saya bisa melihat mayoritas masih suka menulis puisi. Mungkin
karena puisi adalah hal yang paling mudah untuk ditulis,” kata Diana sambil
mengoreksi hasil tulisan peserta.
Dari
hasil tulisan tersebut, perempuan asli Pasuruan ini banyak memberikan masukan
dan arahan kepada peserta. Seperti mengenai kedalaman tulisan dan data-data
sebagai penguat tulisan. Selain itu, juga disampaikan bahwa penulis harus
memiliki kerangka ide, analisa masalah dan referensi literatur yang mendukung
kualitas tulisan.
Di
akhir pertemuan, Diana menyampaikan bahwa peserta tidak boleh minder jika harus
berkompetisi dengan penulis-penulis yang sudah memiliki nama di media massa.
“Kalian harus terus berproses. Jangan takut mengirim tulisan kalian ke media,”
pesan Diana. (Tif)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar