![]() |
| Mawardi Stiawan |
Namaku Ardimawa tapi,
teman-teman di kampusku
sering memanggilku dengan sebutan “Di”. Suatu pagi yang indah bagiku, hari itu
tanggal 10 Oktober 2013 tepatnya. Aku merasa bahagia sekali karena hari ini
adalah hari pertamaku masuk kuliah. Hari pertamaku akan mengenal banyak teman
dari berbagai ras, suku dan agama. Hari pertamaku menulis cerita anak perkuliahan
alias mahasiswa.
Aku
kuliah di kota yang banyak orang mengatakan sebagai kota dingin. Entah kenapa
kota ini dikenal sebagai kota dingin. Aku tidak tahu. Yang jelas sebelum
menjadi mahasiswa sini aku sudah mendengar kota ini dengan dinginnya. Dan kota
itu Malang namanya. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi disana.
Malang
adalah salah satu kota impianku untuk menulis banyak cerita disana. Kelak selama
aku menjadi mahasiswa, aku ingin menulis banyak hal salah satunya adalah
tentang perjalananku menjadi mahasiswa, tentang kampusku, termasuk nanti juga tentang
teman-temanku. Apalagi kalau suasana di pagi hari, sungguh indah sekali dengan
terbitnya matahari diantara gunung-gunung. Inilah salah satu kenapa aku
berangkat ke kota ini.
Katanya sih dulu
mahasiswa dikenal sebagai Agent Of Change
Atau Agent Of Control. Penyebutan label-label seperti itu yang membuatku
semakin semangat untuk terus meneruskan menulis cerita selama menjadi
mahasiswa. Keren khan! dengan sebutan mahasiswa bukan lagi siswa yang diidentik lagi dengan
memakai seragam putih abu-abu. Mendapat
sebutan sebagai mahasiswa seakan-akan
mengenyangkan perutku
sebelum saat makan. Sungguh aku bahagia sekali.
Hari pertama
kuliahku langsung masuk jam 06:30 Wib Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Wah...
bayangkan kalau kamu harus mandi sekitar jam 05:00 Wib pagi setiap hari. Hm, dinginnya minta ampun.
Mau tidak mau, dingin tidak dingin aku harus mandi. Malu pastinya sama teman-teman kalau
setibanya nanti dikelas kelihatan dengan wajah kusam alias aroma mimpi masih
kelihatan. Apalagi ini hari pertamaku masuk kuliah.
Selesainya mandi
aku langsung berangkat tanpa sarapan dulu. Kalau soal sarapan pagi jangan
ditanya. Pasti jawabnya tidak perlu. Kenapa aku berkata seperti itu, karena
kalau masuknya jam 06:30 Wib
maka, paling lambatnya aku harus berangkat setengah jam
sebelum jam masuk kuliah. Wajar, kost
aku khan jauh sekali sekitar 3 Km. Itu pun aku menempuhnya
dengan jalan kaki setiap hari.
Tak
terasa sinar matahari yang mulai terasa
menyengat di kulitku mengisyaratkanku harus segera berangkat ke kampus.
Akhirnya, pelan-pelan aku langkahkan kaki ini dengan hati gembira. Karena aku akan bertemu dengan
teman-teman baruku setelah pertemuan pertama di Ordik. Aku menyusuri jalan ini
dengan penuh hati tabah meski, setiap hari harus berjalan kaki. Dalam
perjalanan itu, mulai banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku termasuk rasa penasaran ini begitu kuat di kepalaku. Semisal,
kayak apa ya nanti suasana di
kelas, bagaimana dengan sistem KBM-nya?. Pertanyaan itu mulai muncul
satu-persatu tanpa kutemukan masih jawabannya.
Jantungku terasa
lebih cepat berdetak, mata ini mulai menatap
satu persatu beberapa gedung-gedung yang
berjajar rapi dihiasi dengan
bunga-bunga. Pemandangan ini membuatku seperti saja singgah ke suatu tempat
yang indah, yang
pertama kali kusinggahi dalam hidupku.
Maklum, aku khan mahasiswa baru.
Dan
tak terasa langkah kaki sampai juga
ke ruang kuliahku.
Di pintu kelas, aku bertemu
dengan seorang perempuan cantik, dia memakai kerudung kuning saat itu dia sedang duduk di
barisan paling depan. Pertama kali aku melihatnya sungguh seperti ada yang
berbeda, yang sedang terjadi dalam diriku. Jantungku berdetak lebih dari biasanya. Aku
masih berdiri dan tidak bergeser sedikit pun di pintu kelas. Bahu ini sengaja
aku sandarkan ke pintu supaya kalau ada mahasiswa lain mau lewat, masih ada
sisa jalan yang bisa mereka pakai.
“Est...”, suara
temanku dari belakang mengisyarakatkan kalau dosen sudah mau masuk. Tanpa kata-kata lagi
aku langsung nyelonong masuk lalu duduk dibagian yang masih kosong. Mata ini
mulai mencari serpihan rasa yang telah tertinggal dari pandangan pertama awal
mau masuk kelas itu.
Dan ternyata
perempuan itu juga pintar selain cantik, senyumnya yang selalu mebilas bibirnya
membuat siapa saja yang memandangnya pasti akan merasakan dengan apa yang aku
rasa yaitu, damai rasanya hatiku berada di dekatnya. Pertama masuk kuliah saja,
dia sudah banyak dikenal baik teman-teman sekelas maupun kakak kelas.
Prilakunya yang baik dan sikap yang ramah-tamah membuatnya semakin banyak
disukai temannya. Tidak hanya di kalangan mahasiswa namun, dosen pun juga yang
kenal. “Subhanallah... padahal ini baru pertama kali masuk kelas dan hari
pertama kuliah”, kata hatiku yang mulai mengaguminya. Aku tahu dia menjadi
terkenal karena teman teman di kelas berkata seperti itu.
Sementara
dosenku terus menerangkan sesuai mata kuliah hari ini, adalah Bahasa Indonesia.
Aku nikmati dengan seksama dan teliti dari apa yang di sampaikan. Ternyata hari
ini dia menerangkan tentang
menulis puisi dan cerpen. Setelah panjang lebar menjelaskan teori menulis
cerpen dan puisi. “Sebelum mata kuliah
ini saya
akhiri, barangkali masih
ada yang belum mengerti?”, kata dosenku. Suasana kelas masih bisu, yang
terdengar hanya suara jam yang berbunyi di dinding memecah sunyi. Aku tidak
tahu apakah mereka mengerti lalu tidak bertanya atau malah sebaliknya. Aku pun
juga ikut diam menikmati sepi.
“Baiklah, kalau
tidak ada yang mau bertanya. Berarti kalian semuanya mengerti dan faham
mengenai pelajaran kali ini. Sebelum diakhiri, sebulan dari hari ini bagi
mahasiswa-mahasiswi karyanya yang dimuat di media cetak baik media lokal maupun
nasional langsung dapat nilai A”, kata dosenku sebelum beranjak meninggalkan
kelas. Waktu sudah menunjukkan 08:30 Wib akhirnya
perkuliahan kali ini dicukupkan dan semuanya meninggal kelas.
***
Perkataan dosen
waktu di kelas membuatku semakin semangat untuk terus belajar berkarya tanpa
putus asah. Ini baru keren! tidak hanya teori tapi prakteknya juga ada. Ini
saatnya aku buktikan kalau yang bisa itu adalah orang yang mau berusaha, mau
bekerja keras mewujudkan cita-cita. Kemauan dan tekat yang kuat akan
mengalahkan segalanya termasuk rasa malas dan kawan-kawannya. “Aku harus buktikan,
kalau aku juga bisa”, suara hatiku yang mulai berbunga-bunga mendapat tawaran
menarik dari dosen. Tugas membuat cerpen itu dalam kurung waktu sebulan dari hari pertama masuk kuliah teori menulis
cerpen dan puisi.
Sampai 30
Oktober 2013 aku masih belum menemukan ide yang cocok untuk kutulis.
Seakan-akan siang dan malam yang ada di dalam kepalaku adalah bagaimana aku
bisa menulis cerpen dengan baik dan dimuat oleh media. Semangatku untuk mewujudkan
itu sangat mengebuh-ngebuh seperti ombak di lautan yang berkejaran mencipta
kenangan.
Hari berikutnya,
aku masih diam merenungi perkataan dosen sewaktu di kelas. Kamu tahu apa yang
kulakukan di kamar tidurku. Aku menggantungkan kata “Aku pasti bisa, Mama”.
Itulah kenapa aku sampai saat ini masih bertahan untuk melakukan semua itu.
Mamaku banyak mengajariku tentang arti hidup. Salah satunya adalah perjuangan
dia dari saat dia mengandungku sampai aku kuliah. Ya, aku ingin memberikan
hadiah itu di semester pertamaku kuliah di kota dingin ini.
Hmm... ternyata
aku baru sadar kalau ini adalah ceritaku. Cerita tentang kuliahku dan
kehidupanku. Bagaimana kalau ini saja yang aku kirim ke media? Mudah-mudahan
dimuat. Amien.
Malang,
11 Oktober 2013
MAWARDI: Salah satu mahasiswa
Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Karya-karyanya
pernah dimuat di Radar Madura, Buletin JEJAK, dan terangkum di blog Penyair
Nusantara. Mawardi yang memiliki nama pena Mawardi Stiawan ini juga tercatat
sebagai salah satu Printis Komunitas PERSI.
Sumber: Malang Post




Tidak ada komentar:
Posting Komentar