Breaking News
Flag Counter

Selasa, 19 November 2013

Ternyata

Mawardi Stiawan
Namaku Ardimawa tapi, teman-teman di kampusku sering memanggilku dengan sebutan “Di”. Suatu pagi yang indah bagiku, hari itu tanggal 10 Oktober 2013 tepatnya. Aku merasa bahagia sekali karena hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah. Hari pertamaku akan mengenal banyak teman dari berbagai ras, suku dan agama. Hari pertamaku menulis cerita anak perkuliahan alias mahasiswa. 
Aku kuliah di kota yang banyak orang mengatakan sebagai kota dingin. Entah kenapa kota ini dikenal sebagai kota dingin. Aku tidak tahu. Yang jelas sebelum menjadi mahasiswa sini aku sudah mendengar kota ini dengan dinginnya. Dan kota itu Malang namanya. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi disana.


Malang adalah salah satu kota impianku untuk menulis banyak cerita disana. Kelak selama aku menjadi mahasiswa, aku ingin menulis banyak hal salah satunya adalah tentang perjalananku menjadi mahasiswa, tentang kampusku, termasuk nanti juga tentang teman-temanku. Apalagi kalau suasana di pagi hari, sungguh indah sekali dengan terbitnya matahari diantara gunung-gunung. Inilah salah satu kenapa aku berangkat ke kota ini.

Katanya sih dulu mahasiswa dikenal sebagai Agent Of Change Atau Agent Of Control. Penyebutan label-label seperti itu yang membuatku semakin semangat untuk terus meneruskan menulis cerita selama menjadi mahasiswa. Keren khan! dengan sebutan mahasiswa bukan lagi siswa yang diidentik lagi dengan memakai seragam putih abu-abu. Mendapat sebutan sebagai mahasiswa seakan-akan mengenyangkan perutku sebelum saat makan. Sungguh aku bahagia sekali.

Hari pertama kuliahku langsung masuk jam 06:30 Wib Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Wah... bayangkan kalau kamu harus mandi sekitar jam 05:00 Wib  pagi setiap hari. Hm, dinginnya minta ampun. Mau tidak mau, dingin tidak dingin aku harus mandi. Malu pastinya sama teman-teman kalau setibanya nanti dikelas kelihatan dengan wajah kusam alias aroma mimpi masih kelihatan. Apalagi ini hari pertamaku masuk kuliah.

Selesainya mandi aku langsung berangkat tanpa sarapan dulu. Kalau soal sarapan pagi jangan ditanya. Pasti jawabnya tidak perlu. Kenapa aku berkata seperti itu, karena kalau masuknya jam 06:30 Wib maka, paling lambatnya aku harus berangkat setengah jam sebelum jam masuk kuliah. Wajar, kost aku khan jauh sekali sekitar 3 Km. Itu pun aku menempuhnya dengan jalan kaki setiap hari.

Tak terasa sinar matahari yang mulai terasa menyengat di kulitku mengisyaratkanku harus segera berangkat ke kampus. Akhirnya, pelan-pelan aku langkahkan kaki ini dengan hati gembira. Karena aku akan bertemu dengan teman-teman baruku setelah pertemuan pertama di Ordik. Aku menyusuri jalan ini dengan penuh hati tabah meski, setiap hari harus berjalan kaki. Dalam perjalanan itu, mulai banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku termasuk rasa penasaran ini begitu kuat di kepalaku. Semisal, kayak apa ya nanti suasana di kelas, bagaimana dengan sistem KBM-nya?. Pertanyaan itu mulai muncul satu-persatu tanpa kutemukan masih jawabannya.

Jantungku terasa lebih cepat berdetak, mata ini mulai menatap  satu persatu beberapa gedung-gedung yang 
berjajar rapi dihiasi dengan bunga-bunga. Pemandangan ini membuatku seperti saja singgah ke suatu tempat yang indah, yang pertama kali kusinggahi dalam hidupku. Maklum, aku khan mahasiswa baru. Dan tak terasa langkah kaki sampai juga ke ruang kuliahku.

Di pintu kelas, aku bertemu dengan seorang perempuan cantik, dia memakai kerudung kuning saat itu dia sedang duduk di barisan paling depan. Pertama kali aku melihatnya sungguh seperti ada yang berbeda, yang sedang terjadi dalam diriku. Jantungku berdetak lebih dari biasanya. Aku masih berdiri dan tidak bergeser sedikit pun di pintu kelas. Bahu ini sengaja aku sandarkan ke pintu supaya kalau ada mahasiswa lain mau lewat, masih ada sisa jalan yang bisa mereka pakai.

“Est...”, suara temanku dari belakang mengisyarakatkan kalau dosen sudah mau masuk. Tanpa kata-kata lagi aku langsung nyelonong masuk lalu duduk dibagian yang masih kosong. Mata ini mulai mencari serpihan rasa yang telah tertinggal dari pandangan pertama awal mau masuk kelas itu.

Dan ternyata perempuan itu juga pintar selain cantik, senyumnya yang selalu mebilas bibirnya membuat siapa saja yang memandangnya pasti akan merasakan dengan apa yang aku rasa yaitu, damai rasanya hatiku berada di dekatnya. Pertama masuk kuliah saja, dia sudah banyak dikenal baik teman-teman sekelas maupun kakak kelas. Prilakunya yang baik dan sikap yang ramah-tamah membuatnya semakin banyak disukai temannya. Tidak hanya di kalangan mahasiswa namun, dosen pun juga yang kenal. “Subhanallah... padahal ini baru pertama kali masuk kelas dan hari pertama kuliah”, kata hatiku yang mulai mengaguminya. Aku tahu dia menjadi terkenal karena teman teman di kelas berkata seperti itu.

Sementara dosenku terus menerangkan sesuai mata kuliah hari ini, adalah Bahasa Indonesia. Aku nikmati dengan seksama dan teliti dari apa yang di sampaikan. Ternyata hari ini dia menerangkan tentang menulis puisi dan cerpen. Setelah panjang lebar menjelaskan teori menulis cerpen dan puisi. “Sebelum mata kuliah ini saya akhiri,  barangkali masih ada yang belum mengerti?”, kata dosenku. Suasana kelas masih bisu, yang terdengar hanya suara jam yang berbunyi di dinding memecah sunyi. Aku tidak tahu apakah mereka mengerti lalu tidak bertanya atau malah sebaliknya. Aku pun juga ikut diam menikmati sepi.

“Baiklah, kalau tidak ada yang mau bertanya. Berarti kalian semuanya mengerti dan faham mengenai pelajaran kali ini. Sebelum diakhiri, sebulan dari hari ini bagi mahasiswa-mahasiswi karyanya yang dimuat di media cetak baik media lokal maupun nasional langsung dapat nilai A”, kata dosenku sebelum beranjak meninggalkan kelas.  Waktu sudah menunjukkan 08:30 Wib akhirnya perkuliahan kali ini dicukupkan dan semuanya meninggal kelas.

***
Perkataan dosen waktu di kelas membuatku semakin semangat untuk terus belajar berkarya tanpa putus asah. Ini baru keren! tidak hanya teori tapi prakteknya juga ada. Ini saatnya aku buktikan kalau yang bisa itu adalah orang yang mau berusaha, mau bekerja keras mewujudkan cita-cita. Kemauan dan tekat yang kuat akan mengalahkan segalanya termasuk rasa malas dan kawan-kawannya. “Aku harus buktikan, kalau aku juga bisa”, suara hatiku yang mulai berbunga-bunga mendapat tawaran menarik dari dosen. Tugas membuat cerpen itu dalam kurung waktu sebulan dari hari pertama masuk kuliah teori menulis cerpen dan puisi.

Sampai 30 Oktober 2013 aku masih belum menemukan ide yang cocok untuk kutulis. Seakan-akan siang dan malam yang ada di dalam kepalaku adalah bagaimana aku bisa menulis cerpen dengan baik dan dimuat oleh media. Semangatku untuk mewujudkan itu sangat mengebuh-ngebuh seperti ombak di lautan yang berkejaran mencipta kenangan.

Hari berikutnya, aku masih diam merenungi perkataan dosen sewaktu di kelas. Kamu tahu apa yang kulakukan di kamar tidurku. Aku menggantungkan kata “Aku pasti bisa, Mama”. Itulah kenapa aku sampai saat ini masih bertahan untuk melakukan semua itu. Mamaku banyak mengajariku tentang arti hidup. Salah satunya adalah perjuangan dia dari saat dia mengandungku sampai aku kuliah. Ya, aku ingin memberikan hadiah itu di semester pertamaku kuliah di kota dingin ini.

Hmm... ternyata aku baru sadar kalau ini adalah ceritaku. Cerita tentang kuliahku dan kehidupanku. Bagaimana kalau ini saja yang aku kirim ke media? Mudah-mudahan dimuat. Amien.


                                                                                                Malang, 11 Oktober 2013

MAWARDI: Salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Karya-karyanya pernah dimuat di Radar Madura, Buletin JEJAK, dan terangkum di blog Penyair Nusantara. Mawardi yang memiliki nama pena Mawardi Stiawan ini juga tercatat sebagai salah satu Printis Komunitas PERSI.

Sumber: Malang Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Designed By