Breaking News
Flag Counter

Jumat, 29 November 2013

Jejak Karya Ronall J Warsa

Lembaran Ingatan

Sebenarnya tidak perlu memakan waktu lama, untuk mengaku lupa denganmu. Walau keriangan-keriangan masa lalu menyisakan getaran halus, dari dada yang menggebu-gebu. Bekas jejak kaki dari sepasang sepatu, turut menyusun memori pada tanah sebagai penanda bahwa disini pernah dilewati anak manusia.

Jujur bahwa tumpukkan buku hampir memenuhi seluruh ruang kosong, dekat jendela yang berlapis poster si-Che Guevara. Sebuah poster yang lekat dengan memori pemberontakkan. Namun seiring waktu luluh sudah rasa berontak oleh irisan sembilu, tepat dihati berwana lebih hitam kecokelatan itu.

Setiap pagi dapat aku buang serpihan-serpihan keinginan yang selalu tersisa, dan benar-benar tidak dapat aku bersihkan sebersih-bersihnya. Ia menjadi debu yang selalu ada, ketika pintu terbuka dan kembali tertutup. Menggunung, hingga menutup pandangan mata yang kemudian aku rasakan, tidak lagi menjadi beban atau paksaan.

Sebenarnya aku sudah begitu mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sehingga antara luasan dahi dan hidungku begitu padu menyentuh selembar sajadah yang tak jelas lagi warnanya. Sesudah mengucapkan salam yang tanpa beban, ke bagian kiri dan kanan. Aku kembali menghamburkan mata air dari dua sumber dari tanah perasaan. Dan begitu cepat Tuhan kembali mengingatkanku pada kehalusan budimu.

Aku larikan semua kosentrasi pada kegiatan manusia baja, yang tak lekang untuk bergerak, hingga mampu melupakan diri maupun orang-orang disekitarnya. Namun karat itu tetap melekat dalam gesekan sudut, yang memang selalu terbuka dan menganga. Beruntung tidaklah luka lagi berdarah. Namun memang lembaran ingatan itu bertumpuk-tumpuk, dan makin mengharu-biru ketika cium aroma tubuhmu. Berlari aku tetap tak dapat meninggalkanmu, karena hanya kegelapan yang mampu memutus bayangmu. 

Swarga Bhara - Kutai Timur, 09 Mei 2012

Dimana-Mana

Di puncak menara dekat dengan gumpalan awan merah pengembara
tangan-tangan tak lelah terbentang merasakan getaran jiwa
secercah tawa lelah mentari dibalas menguning butiran padi
taklama kemudian burung hantu menggantikan kerja kawanan punai.

Di jermal dekat lautan luas, bagai pena terendam tinta berwana biru
tertuju pandangan di lubang saku celana yang tak pernah beriman
lebih gila ketimbang raja gelombang, penahan laju kayuhan nelayan
beruntung tarian lumba-lumba menyambut mereka untuk mulai berburu.

Dimana-mana ilalang pasti bergoyang ditiup angin
namun tak pernah geliat itu jadikan ilalang ditelan bumi
sungguh dekat sekali manusia itu dengan perumpamaan
karena memang manusia bukan pepohonan yang mudah tumbang.

Bukit Pelangi, 28 Maret 2011.

Tarian Rumpun Bambu
 
Senja sekarang tiada sama dengan senja-senja mendatang
separuh tenaga habis saat siang menjelang
separuh tenaga sebentar lagi hilang ketika petang datang
sangat dekat tapi tiada pernah terucap dikala senggang.

Sesal selalu datang bertamu, takkala mata membuka pintu
selamat datang menjadi penghangat walau sepi berurai bisu
selamat tinggal menjadi perkara yang tak habis dimakan waktu
segenggam harap, tersirat dari tarian rumpun bambu.

Bukit Pelangi, 12 Mei 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Designed By